Selasa, 27 Mei 2014

cerpen II

ENTAHLAH
(sebuah curahan hati)
Pagi itu mentari bersinar dengan cerahnya, cahanya yang merebak di sela-sela dedaunan begitu menyilaukan, perlahan kubuka mataku, kudapati banyak anak-anak yang berpakaian putih abu-abu disekitarku,mungkin ada sekitar 300-an anak, aku tak dapat mengenali mereka satu per satu, mereka begitu banyak dan setiap  tahun pasti berganti.
          Di tanah yang luas tempatku berdiri saatini, kulihat berbagai macam ekspresi, bayak, banyak sekali ekspresi. Aku tersenyum saat mereka tersenyum, aku bersedih saat mereka bersedih, aku ingin melakukan seperti apa yang merekalakukan karena aku merasa bagian dari mereka. Kadang aku berpikir akankah mereka merasakan seperti apa yang kurasakan? Entahlah.
           Di usiaku yang telah rentah ini, aku hanya menginginkan mereka selalu dalam keadaan sukacita ketika bersamaku, tapi itu hanya keinginan bodohku. Kenyataanya selama ini, selama setengah abad lebih aku berdiri, selalu saja sepanjang hidupku ada saja sesuatu yang mengiris hatiku. Inginku berteriak, meronta, berlari dari semua ini, tapi aku tak bisa, ku tak sanggup melakukan hal itu.
           Beberapa tahun belakangan ini aku terus menangis dikeheningan malam karena mengingat kejadian-kejadian di waktu siang. Aku enggan membuka mataku di waktu itu, kau bertanya kenapa? Hm... kadang aku membayangkan bisa memutar waktu kembali kemasa di saat aku didirikan, di masa kelahiranku dimana orang-orang menyambutku, anak-anak pada saat itu selalu tersenyum, tersenyum pada teman-teman mereka, tersenyum pada guru mereka dan tersenyum padaku. Di masa itu mereka selalu mengisi ruangan-ruanganku, meskipun masih ada yang membolos tapi itu sangat jarang kudapatkan. Mereka selalu bergotongroyong membersihkanku, merawat bunga-bungaku, mengecatku setiap tahun, dan selalu membayar iuran perbulan yang dibayarkan baik keuntungan mereka maupun untuk kepentinganku. Aku sangat  menginginkan itu kembali terulang, tapi sekali lagi itu hanya keinginan bodohku.
Sekarang semua berubah, berubah, sangat berubah. Mereka yang selalu tersenyum pada teman mereka, saling berbincang satu sam lain, tertawa bersama , sampai menangis bersama, kini hanya sibuk dengan si kotak ajaib yang sering mereka tenteng ke mana-mana. Tak ada lagi yang saling menyapa, tak ada lagi tertawa dan menangis bersama, tak ada lagi yang menyenangkan, tak ada! Semuanya membisu di temani oleh si kotak ajaib. Sang gurupun benasib naas, guru tak lagi diperdulikan nasihatnya, ribuan kata telah mereka gunakan untuk menasehati si murid, mereka nyaris kehabisan kata-kata namun sepertinya sang murid selalu mengamalkan masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Selain itu, memberikan nasihat pada si muridpun bagai berbicara pada ombak yang diterjang badai, entah siapa yang harus mendengarkan. Oh guruku sayang oh guruku malang, mungkin itu kalimat yang tepat untuk menggambarkannya. Anak putih abu-abu yang dulu selalu tersenyum padaku, merawatku, membersihkanku, kini tak lagi menatapku, mereka membiarkan apa yang ada padaku rusak, menendangnya, membangtingnya tanpa ampun, kadang aku bertanya apakah mereka masih memiliki hati nurani? Mereka biarkan aku kotor, kotor, benar-benar kotor, meskipun ada masih ada segelintir anak-anak yang baik hati dengan sukarela membersihkaku, tapi itu sungguh tak berarti bagiku, tetap saja, kotor. Bunga-bunga yanng dulu bermekaran dengan indahnya sehingga mengundang kupu-kupu dan lebah, kini telah layu dan diambang kematiaanya, tak ada lagi kupu-kupu, tak ada lagi lebah, yang ada hanya ulat, ulat yang bersenandung riang di sekitarnya. Mereka taklagi mengisi ruangan-ruanganku banyak ruangan kosong yang tak berpenghuni, hanya beberapa ruangan yang berisi segelintir anak-anak, kadang ku berpikir jika ini terus terjadi bagaimana nasibku kelak? Mereka yang dulu selalu membayar  iuran perbulan kini paling sering menunggak, entah itu telah menjadi hobi baru mereka, atau mungkin mereka memang sudah tak sanggup lagi untuk membayarnya. Hatiku sangat miris melihat semua ini, mengingat pemerintah telah menggembar-gemborkan wajib belajar 12 tahun dengan mengucurkan dana ke sekolah-sekolah, mulai dari BOS, BSM dan kawan-kawannya tapi pada kenyataannyaitu tak terlalu berpengaruh. Kau bertanya kenapa? Entah dana itu tepat sasaran atau tidak aku tak peduli, tapi mungkin saja terjadi penggelapan yang dilakukan oleh seseorang atau beberapa orang. Sungguh aku tak bermaksud untuk berburuk sangka, tapi jika menolaknya itu sungguh naif, benar-benar naif. Itu telah menjadi rahasia umum yang  dianggap angin lalu, hilang begitu saja. Pernah tebesit dipikiranku mungkin saja ada alien yang datang ke bumi dan mencuci otak sebagian orang-orang di negara ini, sehingga mereka tak lagi bekerja dengan hatinya tapi dengan ulu hati mereka. Memiriskan, tapi lagi-lagi itu hanya pikiran bodohku.
Pernah di suatu pagi yang masih sepi, aku melihat  seorang anak gadis, mungkin umurnya tak jauh beda dengan anak-anak yang sering kulihat, namun aku yakn ia bukan bagian dari anak-anak putih abu-abuku. Ingin kupanggil gadis dengan keranjang rotan di punggungnya itu, tapi aku tak bisa. Akhirnya aku hanya dapa melihatnya, mengawasi setiap gerak gerik yang dilakukannya. Dengan sebatang besi di tangan ia mengaduk-aduk isi tong sampah mengambil beberapa kemasan air mineral, wajahnya begitu serius meneliti isitong sampah sepertinya ia tak ingin sang buruan lepas begitu saja. Kemudian ia pindah dari satu tong sampah ke tong sampah lainnya.
“wah akhirnya selesai juga,” kata gadis itu sambil mengusap peluh di dahi dengan punggung tangannya. Kemudian ia mulai melangkahkan kaki kedepan sebuah kelas, oh ternyata kelas Xa.
“lihat saja aku pasti akan menjadi salah satu dari penghunimu. Tunggu aku ya...?!” gadis itu lalu bejalan dengan riangnya menuju gerbangku sepertinya ia akan melanjutkan perburuannya.
Belakangan aku  baru tau bahwa gadis itu adalah anak dari seorang  janda miskin yang tinggal tak jauh dari tempatku. Ibunya bekerja sebagai buruh cuci di rumah tetangganya untuk menghidupi ketiga anaknya. Gadis manis yang ternyata bernama Mila itu adalah anak kedua, sebentar lagi ia akan meninggalkan bangku Sekolah Menengah Pertama dan ia berencana untuk melanjutkan belajarnya bersamaku, ia menyadari sang ibu tak mungkin bisa membiayai seluruh kebutuhannya. Oleh karenaitu, ia bekerja keras agar bisa tetap melanjutkan sekolah demi cita-citanya menjadi seorang guru, ia bekerja mengumpulkan barang bekas pada pagi hari sebelum ke sekolah dan setelah pulang sekolah. Di rumahnya Mila memiliki seorang kakak yang bernama Didi. Didi tak bisa melakukan apa-apa selain hanya berbaring di ranjang reotnya, Didi mengalami kelumpuhan sejak kecil, untuk makan atau melakukan aktivitas lainnya ia hanya mengandalkan ibu atau adik-adiknya. Selain kakak, Mila juga mempunyai seorang adik yang bernama Dewi. Dewi masih duduk di kelas 4 SD, ia pun tak mau hanya berdiam diri melihat ibu dan kakaknya bekerja keras, sehingga ia juga ikut bekerja mencari barang bekas seperti kakaknya, Mila.
Di benakku melihat Mila bagai melihat sebuah oase di gurun pasir nan tandus, sangat menyegarkan. Di tengah anak-anak yang dengan gampangnya menyia-nyiakan sekolah padahal mereka mampu, ia hadir dengan semangat juang demi cita-cita mulia. Tapi aku yakin masih ada Mila Mila lain diluar sana yang juga sedang berjuang demi tetap sekolah, mungkin tidak hanya mengumpulkan barang bekas, tapi mengamen, tukang parkir, buruh angkut di pasar, menyemir sepatu serta pekerjaan lapangan lainnnya. Ingin aku meneteskan air mata haru jika aku bisa.
UN baru saja usai dan ujian kenaikan kelas untuk kelas X dan XI telah di depan mata, yah meski hanya segelintir siswa yang mau bersungguh-sungguh dan bekerja keras untuk itu, tapi aku sangat bersyukur. Oh aku sungguh tak sabar menantikan tahun ajaran baru, aku tak sabar menunggu si gadis manis pujaan hatiku, calon penghuni baruku, aku yakin dia akan sangat menyayangiku dengan segenap hatinya, oh senangnya. Mila kutunggu kedatanganmu.
Saat ini hanya satu harapanku suatu hari nantiakan muncul seorang pahlawan, tidak, banyak pahlawan yang memiliki semangat tinggi sehingga dapat meningkatkan kwalitas pendidikan di negara ini, sehingga menghasilkan Sumber Daya Manusia unggul dan bermoral yang dapat mensejajarkan negara Indonesia dengan negara-negara maju lainnya. Beberapa detik lalu terbesit satu harapan lagi dalam pikiranku, ingin rasanya aku berdiri 100 tahun lagi untuk menyaksikan keberhasilan bangsa ini, tapi apakah aku masih kuat? Apakah ini hanya keinginan bodohku lagi? Entahlah. End. (Muthmainnah S. Ali Lamu)
               
               

                 

Minggu, 25 Mei 2014

MOMENT

 jiah.. inilah kumpulan orang orang yang mengalami kegagalan tertunda..... hohohoh
 ustazah-usatazah, kakak panitia dan pak dekan... say cheese....
 sebelum pertempuran sempetin ngeksis dulu sama mba farah dan mba ifa (make helm)
sambil nunggu pengumuman lomba... udah eksis lagi.....

nah ituleh segelintir foto yang berhasil ane curi hahaha... ini kegiatan lomba berbahasa dan sastra, dan sekolah abe MA. Alkhairaat pusat palu berhasil keluar menjadi juara umum, saatnya saya mengatakan ALHAMDULILLAH..... :)  SALAM SASTRA!!!

Kamis, 22 Mei 2014

ini ceritaku mana ceritamu?

(22-05-2014)Assalamu'alaikum.... salam kenal dariku *ceilah* kenalin nama ane Muthmainnah, bisa di panggil Muthe, Muth, KK Ina juga boleh. Ane iseng-iseng gitu bikin blog. kenapa ane bikin? yah selain ikut-ikutan ane juga gak mau ketinggalan jaman *yayayaya* kalo di rumah ane biasanya cuma di kamar mengurung diri menyendiri dipojokan dengan kotak ajaib ane ini biasalah anak muda... browsingan atau tidak nonton anime.. oh iya ane masih pelajar lho... saat ane nulis ni cerita ane masih duduk di kelas XI aliah.
          oke.. rencananya nih ane mo nge-pos cerita keseharian ane dimari biar bisa berbagi gitu ama teman-teman dari pada di pendam, jadi busuk, karatan, lumutan, iiuuuhh!!! oh iya mo kasi tau aja nih besok ane dkk. bakal mengikuti lomba di UNTAD salah satu Univ. di Kota Palu mohon doanya ye.... apa? ane? ikut lomba apa? oh kalo ane sih cipta cerpen .. ane masih amatiran kok, noh masih banyak typos, cacat, cerita mainstream, abal sana sini, tanda baca mandul(?) pokoknya menyedihkalah... tapi mohon doanya aje kali ajakan ada mukjizat yang turun dari langit gitu *ngarep* . okelah sampe sini aje pembukaan dari ane. tunggu kelanjutannya yoo.... apa gak mau ?! yaudah hiks.. hiks..*pundung di pojokan (lagi?)*