ENTAHLAH
(sebuah curahan hati)
Pagi itu mentari bersinar dengan cerahnya, cahanya
yang merebak di sela-sela dedaunan begitu menyilaukan, perlahan kubuka mataku,
kudapati banyak anak-anak yang berpakaian putih abu-abu disekitarku,mungkin ada
sekitar 300-an anak, aku tak dapat mengenali mereka satu per satu, mereka begitu
banyak dan setiap tahun pasti berganti.
Di tanah yang luas
tempatku berdiri saatini, kulihat berbagai macam ekspresi, bayak, banyak sekali
ekspresi. Aku tersenyum saat mereka tersenyum, aku bersedih saat mereka bersedih,
aku ingin melakukan seperti apa yang merekalakukan karena aku merasa bagian
dari mereka. Kadang aku berpikir akankah mereka merasakan seperti apa yang
kurasakan? Entahlah.
Di usiaku yang telah
rentah ini, aku hanya menginginkan mereka selalu dalam keadaan sukacita ketika
bersamaku, tapi itu hanya keinginan bodohku. Kenyataanya selama ini, selama
setengah abad lebih aku berdiri, selalu saja sepanjang hidupku ada saja sesuatu
yang mengiris hatiku. Inginku berteriak, meronta, berlari dari semua ini, tapi
aku tak bisa, ku tak sanggup melakukan hal itu.
Beberapa tahun
belakangan ini aku terus menangis dikeheningan malam karena mengingat
kejadian-kejadian di waktu siang. Aku enggan membuka mataku di waktu itu, kau
bertanya kenapa? Hm... kadang aku membayangkan bisa memutar waktu kembali
kemasa di saat aku didirikan, di masa kelahiranku dimana orang-orang
menyambutku, anak-anak pada saat itu selalu tersenyum, tersenyum pada
teman-teman mereka, tersenyum pada guru mereka dan tersenyum padaku. Di masa
itu mereka selalu mengisi ruangan-ruanganku, meskipun masih ada yang membolos
tapi itu sangat jarang kudapatkan. Mereka selalu bergotongroyong
membersihkanku, merawat bunga-bungaku, mengecatku setiap tahun, dan selalu
membayar iuran perbulan yang dibayarkan baik keuntungan mereka maupun untuk
kepentinganku. Aku sangat menginginkan
itu kembali terulang, tapi sekali lagi itu hanya keinginan bodohku.
Sekarang semua berubah, berubah, sangat berubah.
Mereka yang selalu tersenyum pada teman mereka, saling berbincang satu sam
lain, tertawa bersama , sampai menangis bersama, kini hanya sibuk dengan si
kotak ajaib yang sering mereka tenteng ke mana-mana. Tak ada lagi yang saling
menyapa, tak ada lagi tertawa dan menangis bersama, tak ada lagi yang
menyenangkan, tak ada! Semuanya membisu di temani oleh si kotak ajaib. Sang
gurupun benasib naas, guru tak lagi diperdulikan nasihatnya, ribuan kata telah
mereka gunakan untuk menasehati si murid, mereka nyaris kehabisan kata-kata
namun sepertinya sang murid selalu mengamalkan masuk telinga kanan keluar
telinga kiri. Selain itu, memberikan nasihat pada si muridpun bagai berbicara
pada ombak yang diterjang badai, entah siapa yang harus mendengarkan. Oh guruku
sayang oh guruku malang, mungkin itu kalimat yang tepat untuk menggambarkannya.
Anak putih abu-abu yang dulu selalu tersenyum padaku, merawatku,
membersihkanku, kini tak lagi menatapku, mereka membiarkan apa yang ada padaku
rusak, menendangnya, membangtingnya tanpa ampun, kadang aku bertanya apakah
mereka masih memiliki hati nurani? Mereka biarkan aku kotor, kotor, benar-benar
kotor, meskipun ada masih ada segelintir anak-anak yang baik hati dengan
sukarela membersihkaku, tapi itu sungguh tak berarti bagiku, tetap saja, kotor.
Bunga-bunga yanng dulu bermekaran dengan indahnya sehingga mengundang kupu-kupu
dan lebah, kini telah layu dan diambang kematiaanya, tak ada lagi kupu-kupu,
tak ada lagi lebah, yang ada hanya ulat, ulat yang bersenandung riang di
sekitarnya. Mereka taklagi mengisi ruangan-ruanganku banyak ruangan kosong yang
tak berpenghuni, hanya beberapa ruangan yang berisi segelintir anak-anak,
kadang ku berpikir jika ini terus terjadi bagaimana nasibku kelak? Mereka yang
dulu selalu membayar iuran perbulan kini
paling sering menunggak, entah itu telah menjadi hobi baru mereka, atau mungkin
mereka memang sudah tak sanggup lagi untuk membayarnya. Hatiku sangat miris
melihat semua ini, mengingat pemerintah telah menggembar-gemborkan wajib
belajar 12 tahun dengan mengucurkan dana ke sekolah-sekolah, mulai dari BOS,
BSM dan kawan-kawannya tapi pada kenyataannyaitu tak terlalu berpengaruh. Kau
bertanya kenapa? Entah dana itu tepat sasaran atau tidak aku tak peduli, tapi
mungkin saja terjadi penggelapan yang dilakukan oleh seseorang atau beberapa
orang. Sungguh aku tak bermaksud untuk berburuk sangka, tapi jika menolaknya
itu sungguh naif, benar-benar naif. Itu telah menjadi rahasia umum yang dianggap angin lalu, hilang begitu saja.
Pernah tebesit dipikiranku mungkin saja ada alien yang datang ke bumi dan
mencuci otak sebagian orang-orang di negara ini, sehingga mereka tak lagi
bekerja dengan hatinya tapi dengan ulu hati mereka. Memiriskan, tapi lagi-lagi
itu hanya pikiran bodohku.
Pernah di suatu pagi yang masih sepi, aku
melihat seorang anak gadis, mungkin
umurnya tak jauh beda dengan anak-anak yang sering kulihat, namun aku yakn ia
bukan bagian dari anak-anak putih abu-abuku. Ingin kupanggil gadis dengan
keranjang rotan di punggungnya itu, tapi aku tak bisa. Akhirnya aku hanya dapa
melihatnya, mengawasi setiap gerak gerik yang dilakukannya. Dengan sebatang
besi di tangan ia mengaduk-aduk isi tong sampah mengambil beberapa kemasan air
mineral, wajahnya begitu serius meneliti isitong sampah sepertinya ia tak ingin
sang buruan lepas begitu saja. Kemudian ia pindah dari satu tong sampah ke tong
sampah lainnya.
“wah akhirnya selesai juga,” kata gadis itu sambil mengusap peluh di dahi
dengan punggung tangannya. Kemudian ia mulai melangkahkan kaki kedepan sebuah
kelas, oh ternyata kelas Xa.
“lihat saja aku pasti akan menjadi salah satu dari penghunimu. Tunggu aku
ya...?!” gadis itu lalu bejalan dengan riangnya menuju gerbangku sepertinya ia
akan melanjutkan perburuannya.
Belakangan aku
baru tau bahwa gadis itu adalah anak dari seorang janda miskin yang tinggal tak jauh dari
tempatku. Ibunya bekerja sebagai buruh cuci di rumah tetangganya untuk
menghidupi ketiga anaknya. Gadis manis yang ternyata bernama Mila itu adalah
anak kedua, sebentar lagi ia akan meninggalkan bangku Sekolah Menengah Pertama
dan ia berencana untuk melanjutkan belajarnya bersamaku, ia menyadari sang ibu
tak mungkin bisa membiayai seluruh kebutuhannya. Oleh karenaitu, ia bekerja
keras agar bisa tetap melanjutkan sekolah demi cita-citanya menjadi seorang
guru, ia bekerja mengumpulkan barang bekas pada pagi hari sebelum ke sekolah
dan setelah pulang sekolah. Di rumahnya Mila memiliki seorang kakak yang
bernama Didi. Didi tak bisa melakukan apa-apa selain hanya berbaring di ranjang
reotnya, Didi mengalami kelumpuhan sejak kecil, untuk makan atau melakukan
aktivitas lainnya ia hanya mengandalkan ibu atau adik-adiknya. Selain kakak,
Mila juga mempunyai seorang adik yang bernama Dewi. Dewi masih duduk di kelas 4
SD, ia pun tak mau hanya berdiam diri melihat ibu dan kakaknya bekerja keras,
sehingga ia juga ikut bekerja mencari barang bekas seperti kakaknya, Mila.
Di benakku melihat Mila bagai melihat sebuah oase
di gurun pasir nan tandus, sangat menyegarkan. Di tengah anak-anak yang dengan
gampangnya menyia-nyiakan sekolah padahal mereka mampu, ia hadir dengan semangat
juang demi cita-cita mulia. Tapi aku yakin masih ada Mila Mila lain diluar sana
yang juga sedang berjuang demi tetap sekolah, mungkin tidak hanya mengumpulkan
barang bekas, tapi mengamen, tukang parkir, buruh angkut di pasar, menyemir
sepatu serta pekerjaan lapangan lainnnya. Ingin aku meneteskan air mata haru jika
aku bisa.
UN baru saja usai dan ujian kenaikan kelas untuk
kelas X dan XI telah di depan mata, yah meski hanya segelintir siswa yang mau bersungguh-sungguh
dan bekerja keras untuk itu, tapi aku sangat bersyukur. Oh aku sungguh tak
sabar menantikan tahun ajaran baru, aku tak sabar menunggu si gadis manis
pujaan hatiku, calon penghuni baruku, aku yakin dia akan sangat menyayangiku
dengan segenap hatinya, oh senangnya. Mila kutunggu kedatanganmu.
Saat ini hanya satu harapanku suatu hari nantiakan
muncul seorang pahlawan, tidak, banyak pahlawan yang memiliki semangat tinggi
sehingga dapat meningkatkan kwalitas pendidikan di negara ini, sehingga menghasilkan
Sumber Daya Manusia unggul dan bermoral yang dapat mensejajarkan negara Indonesia
dengan negara-negara maju lainnya. Beberapa detik lalu terbesit satu harapan
lagi dalam pikiranku, ingin rasanya aku berdiri 100 tahun lagi untuk
menyaksikan keberhasilan bangsa ini, tapi apakah aku masih kuat? Apakah ini
hanya keinginan bodohku lagi? Entahlah. End. (Muthmainnah S. Ali Lamu)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar